Selasa, 12 Februari 2013

Bolu Kukus Putih

inilah penampakan si "Bolu Kukus Putih"
Bismillahirrahmaanirrahiim

Kali ini mau berbagi resep yang baru diterima dari seorang perawat di puskesmas tempat saya bertugas. Kebetulan juga, dulu resep ini pernah saya coba dengan ibu saya, tapi belum berhasil, dan saya pun sudah tidak ingat lagi apa bahan-bahannya, secara waktu itu saya masih SMP atau SMA. Untungnya,masih ingat kalau dulu pernah buat kue ini..hehe..*parah..parah..

Lanjuuuuttt...ini dia ni bahan-bahannya..eh, tapi sebelumnya saya kasih tau kalau takaran untuk bahan-bahan yang digunakan tidak menggunakan satuan gram tapi satuannya gelas ukuran lebih kurang 250 cc..:p
  • 2 gelas  tepung terigu
  • 1 gelas  gula pasir
  • setengah gelas susu kental manis, dilarutkan dengan setengah gelas air biasa
  • 2 butir telur
  • 1 cup ovalet (pengembang kue berwarna kuning)*sebenarnya byk jenisnya, ada SP sama TBM, saya masih belum mengerti apa beda dari ketiga pengembang kue itu, cari sendiri aja y..ada koq di google..^_^
  • vanili secukupnya
Oke, kita lanjut ke cara membuat ya..
  1. Kocok gula dan telur sampai mengembang. *saran saya nich ya, kalau punya mixer, pake mixer aja..selain akan mengembang lebih cepat, tangan kita gk akan cepat capek..Beneran dech, saya baru tadi pertama kali pake pengocok kue manual yang dari besi itu, secara di rumah dinas tidak disediakan mixer, baru 5 menit, sudah pegel..mangkanya hasil kue kurang mengembang maksimal.
  2. Setelah mengembang, masukkan tepung sedikit demi sedikit, lalu ovalet dan vanili.
  3. Yakin semua tercampur rata, masukkan susu yang sudah diencerkan tadi, aduk rata.
  4. Lanjut masukkan adonan ke cetakan khusus bolu kukus yang telah dilapisi kertas roti..masukkan sampai agak sedikit penuh, supaya merekah besar.. *btw, tau kan ya bentuk cetakan bolu kukus, yang dipinggirnya ada bolong-bolong it lho..bisa pake yang dari aluminium seperti digambar atau ada juga yang dari plastik.
    sumber gambar:http://www.bahankue.info/loyang-bolu-kukus-tinggi-pendek
  5. Kukus di panci kukusan yang airnya terlebih dahulu sudah dididihkan.
  6. Tunggu sampai bolu kukus matang, mungkin sekitar 5-7 menit, gak lama koq. Sampai bagian atasnya sudah merekah, atau kalau masih kurang yakin, dtusuk aja pake lidi sedikit. Kalau tidak lengket di lidi, artinya sudah matang.
  7. Angkat dan hidangkan selagi hangat..hmm,lezatosss..^_^
  8. Oiya, bolu kukus yang saya buat tidak seperti bolu kukus biasa yang memakai warna, karena itu dkasih nama bolu kukus putih. Kalau mau pake warna juga oke, jadi lebih eye catching..Caranya sisihkan sedikit adonan, beri pewarna makanan, aduk sampai rata, bubuhkan di atas adonan putih yang sudah dimasukkan ke dalam cup terlebih dahulu.

*Beberapa kesalahan yang saya lakukan sehingga tampak beberapa kue tidak mengembang dan tampak tak beraturan. Semoga yang mau mencoba tidak mengulangi kesalahan saya..*ceritanya ni edisi muhasabah masak..hehe..
1. Mengocok telur tidak terlalu mengembang, jadi kue pun jadi terkesan bantet.
2. Adonan tidak sampai penuh dimasukkan, jadi kue pun kecil-kecil..*tidak seperti yang dijual-jual..-_-
3. Kalau dari comment temen-temen yang coba, kebanyakan telur, jadi rasa amis telur cukup terasa..

Baiklah, ini cuma awal..bukankah Allah melihat proses bukan hasil??*ehh..hehe..Semangat cari resep dan mencoba masakan-masakan yang mudah pastinya...^_^v

Minggu, 10 Februari 2013

Lumpia Ala Kadar


Bismillahirrahmaanirrahiim..

Beberapa waktu yang lalu, lagi mood mau buat lumpia..Sebenarnya, sudah dari beberapa minggu sebelumnya saya 'n friends beli kulit lumpia yang sudah jadi, namun seperti biasanya mood kami masih naik turun untuk memasak, jadi niatnya baru sampai membeli bahan..hehe..  

Kira-kira inilah bahan-bahan dan cara memasak "Lumpia Ala Kadar", sangat cocok bagi pemula seperti anda..(*ups, saya maksudnya)

Bahan-bahan:
  • Kulit lumpia yang siap pakai berisi 50 sheet (kalau mau buat sendiri juga tak masalah, tapi saya belum tau resepnya)
  • Wortel  sesuai selera (saya memakai setengah kilogram), potong memanjang seperti korek api yang gak makan sebulan..(read:potongannya lebih tipis dari korek api)
  • Tauge (bahasa kami disebut kecambah) sebanyak 2 ribu rupiah, ntah dikasih berapa ons sama si emak penjual.
  • Bawang putih yang dihaluskan, banyaknya sesuai selera, kalau yang ini benar-benar sesuai selera, dengan ilmu kirologi yang sudah saya dalami sejauh ini.
  • Sosis yang dipotong dadu. Mau pake daging ayam cincang juga enak koq..berhubung di rumah dinas kami yang sederhana itu cuma ada sosis dan sedikit chicken nugget, jadi kami campur-campur aja sesuka hati..:)
  • Margarin, like usual sesuai selera aja *kita mah orangnya bebas-bebas aje..^^v. Oiy, mentega ini juga berperan sebagai pengganti garam. Jadi, kalo sdh pake margarin gk perlu garam lagi, sudah guriiihh..
  •  Telur 1 butir, dikocok lepas, untuk bahan perekat sekaligus pelumur sebelum digoreng.

Cara Membuat:

  • Tumis bawang putih halus dengan margarin, tumis sampai harum. *jangan nunggu sampe seharum bunga mawar y, coz it's impossible..hehe..
  • Masukkan potongan sosis/ chicken nugget, masak dulu hingga kita rasa itu sudah matang..*pake perasaan aja.
  • Setelah itu, masukkan wortel dan tauge yang sudah dicuci bersih. Masak hingga matang, tanda matang jika wortel sudah mulai sedikit lunak.
  • Sambil diicip-icip, kalau masih kurang asin, boleh ditambah margarin.
  • Jika sudah sesuai dengan selera kita, berarti sudah siap untuk dimasukkan ke dalam kulit lumpia.
  • Untuk bentuk lumpia sendiri, lagi-lagi sesuai selera kita. Biasanya bentuk lumpia sih memanjang, kayak risoles. Liat aja gambar di bawah ini.

Add caption

  • Setelah semua lumpia siap, masukkan ke dalam telur yang sudah dikocok tadi, baru digoreng di minyak panas. Gunakan api sedang, kalau tidak bisa-bisa kulit lumpia sudah coklat tua alias gosong..
  • Selamat mencoba..Cooking is Fun..*kalo lagi mood..:p

Nb: bisa dimakan dengan cuko,seperti gambar di atas. Atau enak juga dimakan dengan saos sambel/tomat.

 

Sabtu, 02 Februari 2013

Andai Aku T'lah Dewasa


Bismillahirrahmaanirrahiim..

Umur  tidaklah menentukan tingkat kedewasaan seseorang. Tidak berarti semakin banyak umur seseorang, semakin tinggi pula tingkat kedewasaan seseorang. Siapa yang berani bilang kalau orang yang sudah berumur 20 tahunan ke atas lebih dewasa pemikirannya dari anak remaja yang masih usia belasan tahun.

Salah satu contoh nyata yakni diri saya sendiri.

Terkadang masih saja, saya, yang sebentar lagi genap berumur seperempat abad ini (oh no, how old I am..!!!) masih sering berpikir n bertindak  kekanak-kanakan. Seringnya tindakan yang dilakukan tanpa pemikiran yang matang terlebih dulu. Setelah terjadi, baru sadar betapa kekanak-kanakannya tindakan atau ucapan yang sudah terjadi.

Tak dapat dipungkuri, semakin bertambah usia, semakin banyak pula-lah kejadian yang seharusnya dapat diambil hikmah/ pelajaran (ibroh) dari hal-hal yang sudah dilewati, baik yang dialami sendiri atau pun yang dialami orang lain.

Semakin mengerti untuk tidak terlalu bodoh melakukan  atau mengucapkan suatu hal tanpa dipikir dulu.

Semakin sadar untuk tidak mudah tersinggung atau sensitif atas suatu tindakan atau ucapan sepele dari orang lain, yang sebenarnya merupakan hal sederhana yang tak perlu dibesar-besarkan.

Semakin mengerti untuk tidak sekadar ikut-ikutan akan suatu hal yang belum  diketahui dengan benar.

Semakin pandai untuk tak melihat suatu hal dari satu sudut pandang saja, namun juga perlu melihat dari berbagai sisi lain.

Semoga saja setiap kejadian yang telah dilewati dapat mendewasakan diri yang masih childish ini..aaamiin..

Senin, 14 Januari 2013

Belajar dari Anak-anak

Bismillahirrahmaanirrahiim...

Seperti biasa, rutinitas hari Senin..pagi upacara di kantor camat, pergi ke puskesmas, siang pulang dari puskesmas..tak ada kegiatan aneh-aneh yang saya jalani hari ini..Namun, ada hikmah besar yang bisa saya ambil dari kegiatan di hari ini..

Terkadang kita dapat belajar tidak hanya dari orang dewasa yang katanya sudah banyak memakan asam garam kehidupan (*kenapa rasa manis tak diikutkan dalam istilah tersebut y??), bahkan dari anak kecil pun kita bisa belajar suatu hal yang besar, yang selama ini dianggap sepele oleh orang -orang dewasa yang kekanak-kanakan.

Di puskesmas tempat saya bertugas, ada beberapa tenaga medis yang bekerja di sana membawa anak-anak mereka, dengan alasan tidak ada yang menjaga anak mereka di rumah. Menurut saya, ini hal yang wajar saja jika pekerja membawa anak mereka ke tempat kerja selagi tidak mengganggu kinerja orang tuanya yang bekerja disana. Toh, saya dulu pun sering diajak oleh orang tua saya datang ke tempat kerja mereka, dimana orang tua saya berprofesi sebagai guru. Saat masih kecil, saya sering diajak masuk ke kelas, duduk dengan manis, melihat orang tua saya mengajar. Dan sampai saya SMP pun saya masih sering datang ke sekolah tempat orang tua saya mengajar, sambil menunggu mereka pulang dan pulang bersama mereka ke rumah.

Begitu pun dengan anak-anak di puskesmas ini, setelah orang tua mereka menjemput dari sekolah, mereka mampir sebentar sembari menunggu orang tua mereka pulang, Di puskesmas ini lah mereka bermain bersama teman-teman sebaya mereka yang juga mengalami nasib yang sama (*bukan arti negatif lho..).

Anak-anak  bermain dengan candaan khas anak-anak..mulai dari lari-larian hingga saling ejek-ejekan..Disinilah cerita itu bermulai, dari saling ejek-ejekan dan saling pamer ini lah, ada dua orang anak cewek yang mulai bertengkar, dari ejeken bilang "jelek", "jahat", dan segala macam kata-kata khas anak-anak..(*pokoke anak-anak banget dah..). Ejek-ejekan terus berlanjut sampai salah satu anak ada yang menangis dan akhirnya pulang ke pangkuan mama-mama mereka.

Awalnya, saya hanya menjadi penonton, dan sesekali menengahi pertikaian anak-anak tersebut. Tapi tak lama kemudian, di depan mata saya, tiba-tiba mereka saling berjabat tangan, saling meminta maaf. Si anak cewek yang satu yang merasa bersalah mengungkapkan kata maaf terlebih dahulu kepada temannya seraya menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan. Dan si anak cewek yang satu lagi pun menyambut tangan temannya tersebut tanpa ada rasa dendam sedikit pun seolah-olah tidak terjadi apa-apa sebelumnya, dan mereka pun bergantian saling cium tangan..Setelah itu, mereka kembali bermain, saling berbagi makanan, saling membela antar teman. Subhanallah, luar biasa pelajaran yang anak-anak ini ajarkan kepada saya.

Pertanyaan-pertanyaan pun muncul dalam benak saya, kenapa hidup orang dewasa tidak semudah hidup yang dijalani oleh anak-anak ini. Mengapa orang dewasa yang katanya banyak makan asam garam kehidupan tadi, sulit sekali melakukan yang baru saja dilakukan oleh anak-anak ini? Bukankah mengakui kesalahan, meminta maaf dan memberi maaf tidak akan menjatuhkan harga diri seseorang? Entah apa yang ada dipikiran orang dewasa, kenapa tidak berpikir sederhana saja layaknya anak-anak ini. Jika ini terjadi, mungkin hidup akan lebih indah..Wallahu'alam..

ini dia keyla, salah satu anak yg sdh mberi pelajaran hr ni..:)


*tamparan untuk diri di hari Senin yang mendung tak berarti hujan ini..ditulis beberapa menit menjelang berbuka shaum sunnah..

Kamis, 10 Januari 2013

Mari Memperluas Zona Nyaman..:)

Bismillahirrahmaanirrahiim..

Eh, sudah 2013 aje nich...berarti ini postingan pertama ane di 2013..*prok..prok..:D

Sebenernya bingung mau nulis apa, tapi kasihan juga blog ini, sudah hari ke 10 di tahun 2013 tapi masih kosong melempem. Baiklah, saya akan menjabarkan semua kegiatan yang tidak terekam dalam blog ini...(*walaupun sebenernya tidak terlalu penting..hehe..). Niat awalnya mau nulis tentang hal-hal yang sudah terjadi di 2012, cuma kayaknya sudah basi ya..sudah ah, lanjut nulis aja..Write what you think..!!!

Di awal 2013 ini, saya mulai ber"siklus" di Puskesmas Bungo 1, Muara Bungo, setelah dengan mulus menyelesaikan perjalanan di IGD RSUD H. Hanafie Muara Bungo..(*alhamdulillah..^__^). Sebenernya sudah nyaman bekerja di IGD RSUD, tapi mau gimana lagi, stase terakhir ini harus dijalani dengan bersungguh-sungguh sesuai dengan amanat undang-undang yang telah ditetapkan..hehe..^^v.. Kalau kata salah satu motivator terkenal di tweet line-nya..ini namanya keluar dari zona nyaman untuk meluaskan zona nyaman berikutnya..*insyaAllah..

Di tempat yang baru ini, insyaAllah saya dan keempat teman lainnya akan mengabdi (#ceeilee, bahasanya..) selama 4 bulan. Sedikit berbeda dengan sistem kerja di rumah sakit, di puskesmas ini kebanyakan pasien yang datang adalah pasien rawat jalan, yakni dengan keluhan yang bisa ditatalaksana hanya dengan obat-obatan, tak perlu perawatan intensif.

Di puskesmas ini juga kami diharuskan ikut upacara setiap hari senin, apel pagi sebelum masuk puskes dan apel siang kalau mau pulang..serasa balik jadi anak sekolah lagi..Terlebih lagi, pertama kali ikut upacara gabungan hari senin di kantor camat bertepatan dengan HUT provinsi Jambi ke 56. Jadi, semua peserta upacara diwajibkan memakai baju adat khas Jambi..yang cowok pake baju telok belango, kalo yang cewek pake baju kurung..Sedangkan kami yang masih polos ini pun, memakai baju biasa tanpa ada embel-embel khas adat apa..ceritanya saltum nich..hehe..

kira-kira kyk ini nich baju yg mereka pake..diambil di sini